Membuat Taman Bacaan yang Mengasyikkan
29 June 2004, by: 1001buku Media
Kompas, 27 Juni 2004
Sudah banyak orang tahu bahwa mendorong minat baca merupakan cara untuk
meningkatkan pendidikan. Berbagai macam perpustakaan komunitas atau taman bacaan muncul di beberapa tempat. Namun dalam praktiknya mereka lebih menekankan mencetak orang-orang yang keranjingan membaca, namun melupakan tujuan yang lebih besar, yakni meningkatkan pendidikan.
Banyak orang tertarik mendirikan perpustakaan untuk umum, namun ternyata tidak ada peminatnya. Mereka lupa bahwa minat baca tidak bisa dibangun dengan hanya menyediakan buku. Harus ada kegiatan yang menarik agar orang mau datang sekaligus meningkatkan pendidikan. Demikian inti diskusi tentang membangun taman bacaan anak yang diselenggarakan Komunitas 1001buku pada "Pameran Buku Jakarta", di Istora Senayan, Rabu (23/6).
Dalam diskusi itu ditampilkan tiga orang muda yang terjun langsung membina taman
bacaan di kampung. Mereka adalah Lutfi Kurnia dari Taman Bacaan Tegal Gundil,
Bogor; Savitry Indrawardhany dari Taman Bacaan Pelangi, Pancoran, Jakarta; dan
Trini Haryanti dari Taman Bacaan Cinderalas, Rembang, Jawa Tengah.
"Tidak mudah menarik orang atau anak-anak untuk membaca. Mereka lebih senang menonton televisi atau melakukan kegiatan yang sudah biasa mereka lakukan. Saya harus mencari akal agar mereka mau membuka buku. Oleh karena orang-orang di sekitar Pancoran lebih senang menonton film, akhirnya saya masuk lewat film," cerita Iin, panggilan akrab Savitry tentang awal pendirian Taman Bacaan Pelangi sekitar dua tahun yang lalu.
Sementara Lutfi mengajak pemuda-pemuda kampung Tegal Gundil untuk membuat koran kampung. Isinya tentang apa yang terjadi di kampung Tegal Gundil.
"Tadinya pekerjaan mereka hanya nongkrong, mabuk, dan menggoda perempuan yang lewat. Mereka terusik ketika di koran kampung itu ditulis tentang mereka.
Setelah mereka diajak untuk membuat koran kampung itu, mereka jadi tertarik
karena ada kegiatan. Lama-kelamaan mereka minta dibuatkan semacam markas yang ada bukunya. Tentunya buku-buku pertama yang masuk adalah buku-buku yang menarik buat mereka," cerita Lutfi.
Namun setelah mereka membuat taman bacaan, baik Iin dan Lutfi melihat buku-buku itu tidaklah cukup untuk meningkatkan pendidikan bagi warga di sekitar mereka.
"Buku itu hanya benda mati. Tidak cukup hanya mengandalkan buku. Harus ada
praktik atau turun ke alam agar semua pengetahuan yang didapat dari buku bisa
tertanam benar di kepala pembacanya," tegas Lutfi.
Dia mencontohkan, ketika anak-anak di Tegal Gundil membaca tentang sungai,
mereka tidak mengerti apa itu pencemaran sungai. Baru setelah anak-anak itu
dibawa ke sungai dan ada tetua dari Tegal Gundil yang bercerita tentang keadaan
sungai tersebut 20 tahun yang lalu, barulah mereka mengerti apa itu pencemaran.
"Dulu sungai itu mempunyai kedalaman lima meter, sekarang tinggal dua meter.
Kenapa bisa begitu? Oh ternyata sekarang di dasar sungai banyak sampah yang
berasal dari mana saja, termasuk sampah rumah tangga. Akhirnya anak-anak Tegal
Gundil tidak saja belajar tentang sungai, mereka juga belajar tentang pencemaran
dan kebersihan lingkungan," cerita Lutfi.
Sementara Iin yang tinggal di daerah masyarakat yang gemar menonton, mengajak
anak- zanak melakukan salah satu adegan yang ada dalam film India, Kuch Kuch
Hota Hai. Dia mengajak anak-anak tiduran di rerumputan sambil melihat awan. Dia
meminta anak-anak berfantasi tentang bentuk-bentuk awan.
Setelah itu dia menanyakan dari mana asalnya awan. "Ketika anak-anak juga
penasaran dari mana asalnya awan, barulah saya buka buku tentang terjadinya
awan. Di sana mereka mulai tertarik pada buku," kata Iin.
Ketiga pembicara tersebut mengatakan, untuk menciptakan taman bacaan yang hidup dan mempunyai banyak anggota, harus ada komitmen serta niat yang kuat dari pemilik untuk terlibat dalam taman bacaan itu.
"Jika memang ada niat memberikan sesuatu untuk daerah, luangkan waktu. Tidak
bisa hanya mengandalkan petugas. Jika taman bacaan itu milik warga setempat,
libatkan warga agar ada rasa kepemilikan di antara warga," kata Trini.
Dia menambahkan, untuk mengenalkan taman bacaan itu, jangan ragu melibatkan
kepengurusan RT/RW setempat, melalui arisan warga, atau pengajian, dan kegiatan warga lainnya. Kemudian, carilah kegiatan yang disenangi warga untuk menarik minat mereka.
Buatlah jadwal acara yang reguler agar mereka tahu ada apa di taman bacaan itu.
Misalnya yang dilakukan Iin, setiap minggu pertama dia memutar film, minggu
kedua membuat sesuatu berdasarkan kreativitas, minggu ketiga membaca buku dan cerita, serta minggu keempat melakukan kunjungan ke luar.
"Jika memang tidak mampu, kita tidak perlu membuka taman bacaan itu setiap hari. Yang penting ada jadwal tetap, walaupun itu hanya seminggu sekali," tegas Iin.
Sama seperti perpustakaan lain, taman bacaan pun akan menghadapi persoalan buku hilang. Untuk mengurangi jumlah buku hilang, buatlah keanggotaan agar mudah melacak keberadaan buku. Peminjaman buku bisa digratiskan, namun jika terlambat kenakan denda yang cukup besar agar anggota disiplin mengembalikan buku.
Untuk membuat taman bacaan, tidak perlu khawatir dengan koleksi buku terbatas.
"Banyak organisasi yang bisa membantu untuk menyediakan atau meminjamkan buku. Walaupun taman bacaan itu hanya memiliki 25 buku, tetapi kalau taman bacaan itu sudah berjalan, pasti ada yang membantu," kata Dimas dari Komunitas 1001buku.
Misalnya Komunitas 1001buku, mereka bersedia membantu menyediakan atau
meminjamkan buku bagi taman-taman bacaan yang kekurangan buku. Caranya dengan mengirim e-mail ke info@1001buku.org, mengakses situs www.1001buku.org, atau ke hotline 0817.6838.410.(ARN)