Otak tadinya kosong, kini sudah terisi
13 April 2006, by: Gola Gong
Jurnal Pustaloka #3, September 2002
Malam Minggu yang lalu (21/9), saya kedatangan dua orang tamu dari Ciloang, kampung tempat kami tinggal. Yaitu Pak Pandi (Ketua Pemuda Kampung), dan Pak Chudori (dia mengaku sebagai orang yang cinta pada kesenian). Sehari-hari kami sering berpapasan di jalan; saling sapa dan saling senyum. Bahkan dengan Pak Pandi, saya sering satu bus jika berangkat ke Jakarta. Pak Pandi bekerja sebagai penjaga toko di kawasan Mangga Dua, Jakarta. "Apakah sekedar bersilaturahmi, atau ada keperluan penting?" begitu saya mengawali pembicaraan. Mereka menjawab, "Silaturahmi dan membicarakan pustakaloka RUMAH DUNIA!"
BERISI
Jujur saja, saya merasa malu kedatangan mereka. Harusnya saya sebagai pendatang di kampung mereka, sowan terlebih dahulu. Saya keduluan. Sudah lama saya dan istri merencanakan akan sowan ke orang-orang kampung tentang keberadaan Pustakaloka RUMAH DUNIA (Pstk RD). Tapi kami agak bingung mencari metode, bagaimana cara menyampaikan atau mengemukakan gagasan dan rencana kami. Khawatir salah memahami. Makanya, kami mengambil strategi: Bikin dulu. Biarkan mereka mengenal dan menilai sendiri.
Istri saya suatu hari pernah bercerita. Ketika dia pulang dari suatu tempat dengan naik becak, si pengayuh becak mengajaknya berbincang-bincang. Dia mengutarakan kekhawatirannya tentang kedua anaknya yang suka datang ke Pstk RD. Istri saya kaget, "Khawatir tentang apa?" Si Abang becak bertanya, berapa dia harus membayar untuk kartu anggota yang dilaminating dan diberi foto? Istri saya menjelaskan, bahwa semua yang ada di pstk RD dunia tidak dipungut bayaran. Dengan kedatangan anak-anak bapak saja, itu sudah merupakan kebanggaan buat kami. Saya sendiri pernah mngalaminya. Ketika saya naik ojek, hal itu pun ditanyakan. "Betul kartu anggota itu gratis?" Mungkin bagi mereka, kartu angota itu barang yang menakutkan atau momok !
Kedua tamu itu juga pernah mempermasalahkan soal kartu anggota. Mereka pikir, apakah kartu itu nanti "ujung-ujungnya duit". Kata Pak Chudori, ketika anaknya menerima kartu angota, dia menunggu. Jika nanti harus bayar, dia akan datang dan protes ke saya. Bahkan kalau perlu, menyuruh saya menutup pstk RM. Tapi, ketika semuanya serba gratis, itu jadi alasan mereka berdua untuk datang bersilaturahmi. Saya terharu mendengarnya.
Saya tanyakan, apakah keberadaan pstk RD merusak tatanan yang sudah ada di sini. Mereka menjawab: tidak. Kalau perubahan: iya. Mereka bercerita, bahwa obrolah dari anak-anak kampung sudah berubah. "Kini berisi!" kata Pak Chudori. Mereka kadang suka diam-diam mendengarkan obrolan anak-anak kampung. Topik pembicaraannya, mulai dari membahas dongeng-dongeng yang biasa mereka dengar di hari Rabu (nabi-nabi atau Malin Kundang) sampai dengan buku-buku yang sudah mereka baca.
"Maka teruskan. Kami mendukung!" kata Pak Pandi. Pak Chudori yang sering bikin tablikh Akbar di alun-alun Serang menambahkan, bahwa dirinya bisa memahami visi dan misi pstk RD; yaitu sebagai kawah untuk meningkatkan kualitas sumber daya anak-anak, yang kelak akan jadi generasi penerus mereka!
TEKS FOTO: Dengan dongeng, mereka bisa berfantasi tentang dunia lain yang belum mereka kenal. Mereka bisa menjelajahi dunia yang belum mereka datangi. Mereka bisa belajar tentang sesuatu yang baik untuk dikejakan dan yang buruk untuk ditinggalan. (Foto dok Rumah Dunia)
WISATA TULIS
Sudah sejak Juli pstk RD menggelinding dengan segala kekukarangan dan keterbatasan. Efektifnya 3 bulan. Wisata yang paling ramai dikunjungi adalah "Wisata Gambar" di hari Selasa. Bisa sekitar 60-anak bertebaran menumpahkan imajinasinya lewat pinsil warna secara bergantian. Tapi, Wisata Tulis pada hari Kamis pun mendapat tempat. Kami memulainya dengan perlahan, karena kami tahu, budaya tulis belum terbiasa di sini.
Ketika kami suruh mereka menulis puisi, tenyata masih banyak yang belum orisinil. Seperti yang pernah saya singgung di jurnal yang kedua, bahwa pemahaman mereka pada meniru berbeda dengan menghapal . Merka bisa bedalih, bahwa puisi karya Pujangga Baru yang mereka tulis ulan, bukanlah meniru, tapi karena mereka sudah menghapalnya di luar kepala. Jadi ketika menuliskanya, mereka tidak perlu melihat (mencontek) ke buku lagi, tapi langsung menuliskannya. Kini beberapa puisi sedang kami seleksi.
Kamis yang baru lalu, istri saya menyuruh anak-anak untuk membuat karangan pendek tentang keberadaan pstk RD. Dengan sangat antusias mereka menuliskannya. Ada beberapa karangan yang persis sama (saling mencontek) dan ada yang dengan gayanya sendiri. Saya membacanya juga dengan sangat antusias. Beberapa karangan sudah saya pisahkan. Mulai tahun depan, akan kami buka kelas menulis. Insya Allah, akan saya didik mereka untuk jadi penulis (bisa wartawan atau pengarang). Dua buah karangan bisa kita nikmati di jurnal September ini. Simaklah apa yang mereka tulis ini. Saya sengaja tidk mengeditnya. Saya tulis apa adanya seperti yang mereka tulis dengan pinsil. Selamat membaca, Kawan!
1. KESAN DI RUMAH DUNIA
Oleh Istianah, Kelas 6 SDN Sumber Agung
Pada hari pertama saya ke rumah dunia saya merasa senang sekali. Dan saya membaca buku cerita tentang nabi-nabi. Tadinya saya tidak tahu cerita nabi Daud sekarang saya sudah tahu. Di sini saya belajar menggambar, menulis puisi dan mendengarkan dongeng nenek tentang nabi. Saya ingat waktu membaca cerita nabi daud yang anaknya durhaka terhadap ayahnya. Saya senang baca-baca buku di perpustakaan rumah dunia jadi saya terisi otaknya. Tadinya kosong saya sudah terisi. Daripada bengong di rumah mendingan baca-baca buku di perpustakaan ini. Saya senang bisa membaca cerita-cerita itu. Terima kasih. ***
2. PENASARAN CERITA ADIK
Oleh Noviyanti, kelas 6 SDN Sumber Agung
Setelah saya datang ke sini dan mendapatkan kartu anggota saya sudah merasa senang apalagi ditmbah membaca buku cerita yang menambah ilmu pengetahuan saya. Saya datang kesini dari pukul 01.00 s/d 02.30 siang. Tujuannya saya datang ke sini untuk membaca buku cerita (dongeng) seperti:majalah, Malin kundang, nabi-nabi dan sebagainya. Saya mendaftarkan diri ke pustakaloka rumah dunia ini karena saya setiap hari mendengar cerita dari adik saya (Puji). Saya semakin penasaran. Oleh sebab itu saya daftar ke perpustakaan ini. Ternyata memang enak datang ke sini. Di perpustakaan ini pemandangannya enak dari pada dirumah kesal, tidak ada buku yang bisa dibaca. Di sini udaranya sejuk dan menyenangkan. Dan di sini banyak pepohonan seperti: bunga-bunga, pohon pisang, pohon jambu, pohon pepaya, dan sebagainya. Majalah-majalah di sini sangat bagus dan menyenangkan. Di sini banyak komik-komik yang bagus seperti: komik Doraemon, Dragon Ball, Kung fu Boy, dan sebagainya. Kesan lain yang saya dapatkan di sini masih banyak di antaranya di dalam pelayanan yang baik terutama Pak Heri dan Bu Tias. Dan penjaganya juga baik-baik. Seperti kak Deden, teh Rini, dan teh Ijah. ***